KUALA LUMPUR: Pekan lalu, sopir taksi Malaysia Mohamed Aidil mencoba TuJu, aplikasi navigasi jalan tol buatan dalam negeri.
Ia mencoba beralih setelah Perdana Menteri Anwar Ibrahim mengimbau masyarakat meninggalkan Waze. Aplikasi navigasi populer berbasis kontribusi pengguna itu dinilai berisiko bagi keamanan data karena tunduk pada hukum Israel.
Namun, kurang dari 24 jam kemudian, Aidil, 38, menghapus TuJu dan kembali menggunakan Waze.
“Banyak tujuan yang tidak tersedia, sementara beberapa petunjuk arah terasa tidak masuk akal,” kata Aidil tentang TuJu, aplikasi yang dikembangkan Otoritas Jalan Raya Malaysia.
“Saat ini, aplikasinya belum cukup bagus dan praktis untuk digunakan,” ujarnya.
Aidil bukan satu-satunya pengendara yang kesulitan meninggalkan Waze. Aplikasi yang digunakan jutaan orang di Malaysia itu tetap populer meski hubungannya dengan Israel kembali menjadi sorotan.
Pengemudi taksi online P. Vishovartan mengandalkan fitur navigasi bawaan aplikasi Grab saat mengantar penumpang. Namun, untuk perjalanan pribadi, terutama saat pulang kampung ke Penang, ia lebih memilih Waze.
“Waze paling akurat dalam memperkirakan waktu perjalanan dan biaya tol,” kata Vishovartan. Menurutnya, Waze juga paling andal mencari rute alternatif saat lalu lintas macet.
Meski mengecam keras aksi militer Israel di Gaza dan wilayah lain, Vishovartan mengaku sulit berhenti menggunakan Waze saat ini karena aplikasi itu menyediakan informasi terkini tentang insiden dan kecelakaan lalu lintas.
Waze diluncurkan pada 2006 sebagai proyek sumber terbuka (open-source) bernama FreeMap Israel, lalu diakuisisi raksasa teknologi Google pada 2013 dengan nilai lebih dari US$1 miliar. Menurut kebijakan privasinya, Waze masih dioperasikan oleh Waze Mobile yang berbasis di Tel Aviv.
Pada 20 Oktober, Malaysia melarang pegawai negeri menggunakan Waze karena khawatir adanya kebocoran informasi sensitif pemerintah dan data pribadi tidak aman. Larangan itu selama jam kerja maupun di luar jam kerja.
“Informasi sensitif pemerintah dan data pribadi warga harus dilindungi agar tidak dimanfaatkan rezim Israel dengan cara yang dapat mengancam keamanan dan kedaulatan negara,” demikian pernyataan Kantor Perdana Menteri pada 21 Oktober.
Malaysia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel dan telah lama mendukung perjuangan Palestina.
Waze membantah tuduhan bahwa pihaknya mengumpulkan informasi sensitif pemerintah atau membiarkan data pribadi pengguna disalahgunakan.

Leave a Reply