JAKARTA: Utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh telah direstrukturisasi dengan tenor hingga sekitar 80 tahun, sehingga cicilannya menjadi sekitar Rp1 triliun per tahun.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, perpanjangan tenor tersebut membuat beban pembayaran utang proyek kereta cepat itu menjadi lebih ringan dan dapat ditangani oleh perusahaan khusus atau special mission vehicle (SMV) di bawah Kementerian Keuangan.
“Total utang besar, tapi sudah direstrukturisasi 80 tahun, cicilannya Rp1 triliun atau sedikit di bawah dari tahun ke tahun. Ada yang tinggi, ada yang rendah,” kata Purbaya dalam taklimat media di Jakarta pada Selasa (8/9), dikutip dari Antara.
Menurut catatan Kompas.id, nilai investasi proyek Whoosh sejak awal mencapai US$7,2 miliar atau sekitar Rp116,5 triliun. Sekitar 75 persen, atau US$5,4 miliar di antaranya dibiayai melalui pinjaman China Development Bank, sementara sisanya berasal dari penyertaan modal para pemegang saham.
PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), operator Whoosh, dimiliki konsorsium badan usaha milik negara Indonesia melalui PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) sebesar 60 persen dan Beijing Yawan HSR Co Ltd sebesar 40 persen.
UTANG AKAN DIKELOLA SMV KEMENTERIAN KEUANGAN
Restrukturisasi tersebut berjalan seiring rencana pengalihan saham konsorsium BUMN Indonesia di KCIC beserta kewajiban utangnya dari Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara kepada Kementerian Keuangan. Pemerintah tengah menyiapkan SMV di bawah kementerian tersebut untuk menerima pengalihan itu.
Sebelumnya, Purbaya menyebut Indonesia Investment Authority dan PT Sarana Multi Infrastruktur sebagai dua opsi lembaga yang dapat menjalankan mandat tersebut. Namun, keputusan mengenai SMV yang akan menerima saham dan kewajiban Whoosh belum ditetapkan secara formal.
Dengan cicilan sekitar Rp1 triliun per tahun, Purbaya mengatakan, pemerintah bahkan dapat menggunakan satu SMV saja untuk menangani kewajiban tersebut.
“Saya cuma lihat bebannya setiap tahun seperti apa. Kalau segini saja cukuplah ditangani oleh satu SMV di bawah Kementerian Keuangan,” ujarnya.
Purbaya mengklaim, salah satu SMV di bawah Kementerian Keuangan mampu membukukan keuntungan sekitar Rp3 triliun hingga Rp4 triliun per tahun. Pemerintah juga memperkirakan operasional Whoosh dapat memberikan tambahan keuntungan sekitar Rp800 miliar per tahun.

Leave a Reply