Konflik tersebut juga merambah Venice Film Festival tahun ini. Para aktivis menyerukan agar penyelenggara mengibarkan bendera Palestina sebagai bentuk pengakuan terhadap para sutradara Palestina yang filmnya diputar dalam festival tersebut.

Direktur artistik festival, Alberto Barbera, mengatakan hal tersebut tidak mungkin dilakukan karena Italia belum secara resmi mengakui negara Palestina.

Namun, ia menyoroti sejumlah film yang ditayangkan di Lido yang menggambarkan perjuangan warga Palestina dalam kehidupan sehari-hari.

Sarandon mengatakan penolakan untuk merekrut orang-orang yang secara terbuka mengkritik Israel masih sangat kuat, khususnya di kalangan studio-studio besar.

“Kalau itu studio besar, aku pikir hal ini bukan hanya terjadi padaku, tetapi juga pada orang-orang lain yang sudah diberi tahu bahwa hal tersebut (mendukung Palestina) tak mungkin dilakukan,” katanya, sembari berterima kasih kepada Andrea Pallaoro, sutradara The Echo Chamber, karena telah memilihnya untuk bermain dalam film tersebut.

“Aku menemukan keluargaku, aku menemukan orang-orang yang sepemikiran denganku, dan aku baik-baik saja,” katanya, yang kemudian disambut tepuk tangan panjang dalam konferensi pers tersebut.

Dalam film terbarunya, yang diadaptasi dari skenario terakhir karya sineas Italia Bernardo Bertolucci, Sarandon berperan sebagai penyanyi yang sudah menua dan merekrut seorang produser musik yang tengah dalam masa pemulihan dari kecanduan narkoba untuk menggarap album comeback.

The Echo Chamber menjadi salah satu dari 21 film yang berkompetisi memperebutkan penghargaan Golden Lion di Venice Film Festival, yang akan diberikan pada 12 September 2026.

Sarandon membintangi drama romantis yang syuting di Italia serta Belgia itu bersama Luca Marinelli dan Alicia Vikander. 



Source link