loading…

Brigjen TNI Agus Bhakti mengungkap pertarungan persepsi dalam perang kognitif di era digital. Foto/istimewa

JAKARTA – Media sosial (Medsos) kini menjadi arena untuk memengaruhi cara masyarakat memandang kebijakan, menilai pemerintah, hingga menyikapi berbagai persoalan politik dan hal itu tidak hanya berlangsung saat pemilihan presiden atau kepala daerah usai. Di ruang digital, pembentukan persepsi dapat berlangsung setiap hari, mengikuti dinamika kebijakan, polemik politik, hingga respons masyarakat terhadap kinerja pemerintah.

Di balik konten yang ramai diperbincangkan, terdapat persoalan yang lebih mendasar: siapa yang membentuk narasi, kepentingan apa yang menyertainya, dan bagaimana opini publik dapat menjadi komoditas? Persoalan ini menjadi salah satu sorotan dalam diskusi bedah buku Perang Kognitif: Eskalasi Digital, Demonstrasi, dan Demokrasi Indonesia 2025 karya Brigjen TNI Agus Bhakti di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran, Bandung pada 15 Oktober 2026.

Diskusi yang mempertemukan perspektif pertahanan, pengamatan media sosial, dan ilmu politik itu mengangkat perubahan ekosistem digital yang membuat pembentukan opini tidak lagi terbatas pada momentum elektoral. Narasi di media sosial juga dapat menjadi instrumen untuk mengawal reputasi pemerintahan, memperkuat dukungan, maupun memengaruhi penilaian publik terhadap kebijakan.

Baca juga: Jenderal Gatot Ingatkan Meritokrasi di TNI dan Bahaya Perang Informasi

Dalam pembahasan buku tersebut, ruang digital digambarkan sebagai arena persaingan yang melibatkan beragam aktor, mulai dari elite politik dan pemodal, konsultan, kreator konten, influencer, buzzer, hingga jaringan akun dan administrator grup percakapan. Ekosistem ini memperlihatkan bahwa penyebaran opini dapat bersinggungan dengan kepentingan politik maupun insentif ekonomi.

Perubahan algoritma dan dominasi konten visual turut mengubah cara pesan diproduksi dan dikonsumsi. Konten yang membangkitkan emosi berpotensi memperoleh perhatian lebih besar, sementara narasi yang diulang terus-menerus dapat memperkuat persepsi tertentu.



–