Namun, mengingat Sirkuit Sepang berada cukup jauh dari pusat wisata utama Kuala Lumpur—sekitar 1,5 jam perjalanan dari pusat kota—para analis menyarankan penyelenggara menawarkan paket tiket yang dipadukan dengan akomodasi, belanja, atraksi budaya, dan wisata domestik agar pengunjung tinggal lebih lama. Dengan begitu, manfaat ekonominya juga dapat dirasakan masyarakat di wilayah sekitar.

Menurut para pengamat, jika pengalaman yang ditawarkan mampu meninggalkan kesan kuat dan menarik minat besar, Malaysia berpeluang kembali mengamankan tempat permanen di kalender Formula 1. Kalaupun itu tidak terwujud, para penggemar internasional diyakini akan terdorong kembali berlibur ke Malaysia.

Jake Abdullah, pemilik agensi pemasaran Malaysian Dynamic Media, mengatakan, ia yakin wisatawan mancanegara yang belum pernah berkunjung ke Malaysia akan “datang karena balapannya, lalu pulang sambil membicarakan makanannya”.

“Saya benar-benar yakin sebagian besar dari mereka akan kembali lagi. Bedanya, lain kali mereka akan membawa lebih banyak orang dan tinggal lebih lama,” katanya kepada CNA.

“Itulah yang seharusnya menjadi fokus utama Tourism Malaysia. Formula 1 bukan sekadar sebuah ajang. Selama tiga hari, ini adalah alat promosi paling murah sekaligus paling ampuh yang pernah dimiliki negara ini, dan biaya eksposur medianya bahkan ditanggung pihak lain.”

MINAT MENINGKAT, TANTANGAN MASIH MENANTI

Tanda-tanda meningkatnya antusiasme terhadap balapan ini sudah mulai terlihat.

Pada Minggu, akun Instagram bojomalaysia, yang kerap membagikan rekomendasi kuliner dan aktivitas di Malaysia, mengunggah bahwa antrean pembelian tiket sudah mulai terbentuk meski informasi resmi belum diumumkan. Unggahan itu meraih lebih dari 7.000 tanda suka dan 5.000 kali dibagikan, meski banyak warganet meragukan kebenaran informasinya.

Sebagian besar perbincangan di grup media sosial Formula 1 di Singapura dan Malaysia yang dipantau CNA berfokus pada orang-orang yang berlomba-lomba memesan akomodasi di dekat Sepang bahkan sebelum penjualan tiket dibuka.

Pengecekan CNA di situs tiga hotel yang berada dekat Sirkuit Sepang menunjukkan seluruh kamar telah habis dipesan untuk periode 1 hingga 5 Oktober. Sementara itu, sebuah hotel di dekat KLIA yang masih tersedia pada tanggal tersebut mematok tarif hampir RM1.000 (Rp4,4 juta) per malam untuk satu kamar, sekitar empat kali lipat dari harga normal.

“Yang saya khawatirkan adalah soal harga. Kalau tarif dinaikkan tiga kali lipat selama empat malam, kita mungkin menang akhir pekan ini, tetapi kehilangan reputasi. Tamu yang merasa diperas akan bercerita di internet, dan internet tidak mudah memaafkan,” kata Jake.

“Tolong buat paket. Menaikkan tarif kamar bisa dilakukan siapa saja. Yang jarang dilakukan adalah menawarkan paket tiga malam lengkap dengan transportasi, makanan, dan pengalaman lokal yang berkesan kepada penggemar yang baru pertama kali datang ke sini. Di situlah sebenarnya keuntungan berada.”



Source link