YANG TERSISA DARI MASA LALU

Greenland kini menghadapi tantangan mempertahankan komunitas-komunitas terpencil yang kehidupannya sangat lekat dengan alam, di tengah perubahan yang membuat semuanya tak lagi sama.

Warga setempat tak perlu membaca data ilmiah untuk memahami perubahan itu.

Nelayan Hanserak Olsen mengenang masa ketika es laut terbentuk selama berbulan-bulan di fyord di depan desanya. Kini, hampir sepanjang tahun pelabuhan yang sama bisa dilalui perahu.

“Es pada musim dingin sekarang lebih sedikit. Dulu, ketika saya masih kecil, kami bisa naik kereta luncur anjing sampai ke kota. Sekarang hampir mustahil,” katanya.

Lebih jauh ke utara, di luar kota Sisimiut, badai salju musim panas sempat memutihkan Arctic Circle Trail. Jalur terkenal sepanjang 160 km itu membentang ke pedalaman menuju lapisan es Greenland, melintasi bentang alam dengan kondisi yang semakin sulit diprediksi.

Marinus Hurni Christensen, yang mengelola tur petualangan melalui Hotel Søma, mengatakan, cuaca musim dingin yang tidak biasa pernah membuat sungai-sungai mengering dan kebakaran hutan melanda tundra terpencil.

Minimnya salju sepanjang musim dingin bukan hanya memaksanya membatalkan perjalanan wisata, tetapi juga membuat suasana muram menyelimuti masyarakat selama periode panjang tanpa banyak cahaya, katanya.

“Meski di sini gelap, sedikit cahaya yang kami dapatkan akan dipantulkan kuat oleh salju, termasuk cahaya bulan dan bintang. Semuanya bersinar,” katanya.

“Kalau saljunya tidak ada, yang tersisa hanyalah kegelapan Arktik yang pekat dan total. Orang-orang menjadi depresi, cemas, dan secara umum sedikit lebih murung.”



Source link