Pramono pun memastikan bahwa Jakarta aman.
Ia juga meminta para pelaku usaha untuk tidak memasang pagar secara berlebihan di sekitar properti mereka.
Pemprov Jakarta, kata Pramono, akan berdiskusi dengan pelaku usaha untuk mencari solusi terbaik sambil tetap menjaga kepercayaan masyarakat.
Kepolisian juga berupaya menenangkan masyarakat dengan menegaskan tidak ada indikasi Jakarta menghadapi ancaman keamanan dalam waktu dekat.
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol. Budi Hermanto mengatakan pada Sabtu bahwa situasi keamanan di Jakarta dan wilayah Jabodetabek tetap aman dan kondusif.
“Kami jamin, bukan cuma sampai dengan Agustus, September, sampai dengan selanjutnya. Polda Metro Jaya, Kodam Jaya, dan Pemerintah DKI selalu hadir untuk mengawal aktivitas dan kegiatan masyarakat,” ujar Budi.
Budi mengatakan, tim preventif telah dikerahkan untuk mengantisipasi apabila terdapat kelompok yang ingin membuat kerusuhan. Patroli juga ditingkatkan di Jakarta serta wilayah penyangga seperti Bekasi, Depok, dan Tangerang.
Ia menambahkan, kepolisian terus melakukan patroli siber untuk memantau berbagai unggahan yang mengandung disinformasi maupun provokasi di media sosial.
Menurut Budi, hingga saat ini belum ada pemberitahuan resmi terkait rencana aksi unjuk rasa. Ia mengimbau masyarakat agar tidak mudah percaya pada informasi yang mengandung disinformasi, provokasi, fitnah, maupun penyesatan.
Sementara itu, sejumlah pelaku usaha membantah anggapan bahwa pagar-pagar besi yang baru dipasang dimaksudkan sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan kerusuhan baru.
Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja menuturkan, tujuan utama pemasangan pagar adalah untuk menata arus keluar-masuk pengunjung agar lebih tertib, sekaligus mengurangi risiko keselamatan dan memperlancar lalu lintas di sekitar pintu masuk mal.
“Ya sebetulnya, kan, tujuan utamanya adalah untuk supaya lebih menertibkan gitu, loh, arus keluar masuk pengunjung. Kalau terbuka itu, kan, pengunjung bisa masuk dan keluar dari mana saja, sehingga itu, kan, membahayakan lalu lintas sekitar gitu kan,” ujar Alphonzus kepada CNBC Indonesia pada Sabtu.
Ia mengatakan, pagar tersebut ditujukan untuk mengarahkan arus pejalan kaki melalui jalur masuk dan keluar yang telah ditentukan, bukan sebagai respons terhadap ancaman keamanan tertentu.
Direktur Marketing Pakuwon Group Sutandi Purnomosidi juga membantah anggapan bahwa pagar dipasang karena pelaku usaha memperkirakan akan terjadi demonstrasi.
Sebaliknya, menurut dia, pemasangan pagar merupakan bagian dari upaya perusahaan menciptakan lingkungan yang lebih tertata dan aman.
Sutandi mengibaratkan pagar di pusat perbelanjaan seperti pagar rumah tinggal. Menurutnya, pagar merupakan fitur keamanan dasar dan tidak perlu selalu dikaitkan dengan ancaman tertentu.
“Misal netizen punya rumah, punya pagar. Fungsinya untuk apa sih? Fungsinya untuk apa? Pagar untuk apa? Ya, pasti pertama untuk keamanan dong. Ya, kan? Tapi keamanan dari apa? Kan kita enggak tahu. Betul enggak?” ujarnya kepada CNN Indonesia.
Sejumlah pelaku usaha di Jakarta juga mulai membongkar pagar-pagar tersebut setelah imbauan Pramono.
Di Mal Kota Kasablanka, Jakarta Selatan, pagar besi setinggi sekitar 2,5 meter yang selama hampir sepekan mengelilingi jalur pejalan kaki dan pintu masuk utama mal telah dibongkar pada Senin, CNBC Indonesia melaporkan.
Pagar tersebut sebelumnya menjadi sorotan luas karena berdiri di area yang selama ini menjadi salah satu jalur utama pejalan kaki menuju pusat perbelanjaan.

Leave a Reply