TITIK PANAS DI HABITAT ORANGUTAN

Ancaman tersebut terjadi di tengah luasnya kawasan habitat orangutan yang terdampak karhutla di Kalimantan. Analisis organisasi kampanye lingkungan dan satwa liar Geopix menggunakan data resmi pemerintah periode 1 Juni hingga 28 Agustus 2026 mendeteksi 22.744 titik panas di seluruh Kalimantan. Sebanyak 17.865 titik panas, atau 78,5 persen, berada di wilayah habitat orangutan.

Dari total area terdampak seluas 42,8 juta hektare selama Juni hingga Agustus, sekitar 25,8 juta hektare atau 60,2 persen berada di kawasan habitat orangutan. Geopix menyebut situasi itu diperparah krisis iklim dan fenomena El Niño kuat yang diperkirakan bertahan hingga Januari 2027.

Orangutan Borneo (Pongo pygmaeus) berstatus terancam kritis menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN). Populasinya diperkirakan tersisa sekitar 57.350 individu. Borneo Orangutan Survival Foundation menyebut hampir 80 persen dari total populasi orangutan telah hilang dalam waktu kurang dari 50 tahun, dari perkiraan 288.500 individu pada 1973.

Kebakaran menambah tekanan terhadap populasi yang telah menyusut tersebut. Menurut Geopix, dampaknya tidak berhenti pada hilangnya tutupan hutan, tetapi juga mengancam sumber makanan, pohon untuk bersarang, jalur penghubung antarkawasan habitat, dan kelangsungan hidup populasi orangutan dalam jangka panjang.

Analisis kerentanan Geopix menempatkan Muller-Schwaner, Schwaner Barat, dan Seruyan-Sampit sebagai kawasan paling kritis karena populasi orangutan yang kecil harus menghadapi intensitas titik panas tinggi. Sementara Sungai Rungan, Katingan, dan Gunung Palung diidentifikasi sebagai kantong populasi penting yang membutuhkan pencegahan kebakaran serta perlindungan habitat lebih ketat.

Ancaman terhadap Gunung Palung juga terlihat dalam kasus Mama Penja, Penja, dan Kumbang. Hutan Desa Penjalaan dan Hutan Desa Padu Banjar merupakan habitat orangutan sekaligus kawasan penyangga Taman Nasional Gunung Palung, salah satu kantong populasi penting orangutan di Kalimantan Barat.

Kepala BKSDA Kalimantan Barat Murlan Dameria Pane mengatakan, tiga orangutan yang baru dievakuasi kini menjalani perawatan di pusat penyelamatan YIARI di Ketapang. “Secara keseluruhan, hingga saat ini sudah ada 18 individu orangutan yang kami selamatkan akibat karhutla,” katanya.

Geopix menilai, kondisi tersebut mencerminkan kegagalan pencegahan kebakaran dan mendesak langkah darurat untuk memadamkan api serta mempertahankan habitat orangutan yang tersisa.

“Kita semua telah gagal memitigasi bencana ini. Beberapa pihak bahkan mungkin masih bermain api melalui berbagai upaya yang memperlemah perlindungan hutan, sehingga menyebabkan masyarakat dan satwa liar ikonik Indonesia kehilangan hak mereka atas lingkungan yang sehat,” kata pengampanye senior satwa liar Geopix Annisa Rahmawati seperti dilaporkan Kompas.com, Kamis (10/9).

Geopix juga menyerukan survei menyeluruh terhadap habitat dan populasi orangutan setelah kebakaran untuk mengetahui tingkat kerusakan sebenarnya, termasuk kondisi populasi, ketersediaan makanan dan kawasan bersarang.

Sementara itu, BKSDA Kalimantan Barat meminta masyarakat segera melaporkan jika menemukan satwa terdampak kebakaran agar proses penyelamatan bisa dilakukan lebih cepat.



Source link