Mayank Sohar, pendiri Brand Scale, perusahaan konsultan bagi berbagai merek konsumen, mengatakan perusahaan di India umumnya mengatasi tantangan kepercayaan dengan memperkuat kehadiran merek dan menggunakan saluran komunikasi terverifikasi.
“Meski ada intervensi pemerintah seperti National Consumer Helpline, upaya mempermudah penyelesaian pengaduan masih perlu ditingkatkan,” kata Sohar.
KEJAHATAN SIBER DI LUAR KENDALI PLATFORM
Mengenang kembali kejadian itu, Mohan mengatakan penipuan tersebut tidak bergantung pada satu orang atau satu platform, melainkan pada bagaimana pelaku dengan mulus berpindah dari Google Meet ke WhatsApp, lalu ke sistem perbankan.
“Penipuan siber kini telah berkembang dari kampanye phishing yang berdiri sendiri menjadi rangkaian serangan yang sangat terkoordinasi dan mencakup berbagai lapisan internet,” kata Goran Risticevic, Vice President dan Managing Director Asia Pacific Cloudflare, perusahaan infrastruktur web dan keamanan siber.
Artinya, langkah satu perusahaan biasanya hanya menghambat satu bagian dari operasi yang lebih besar, sehingga pelaku tetap bisa melanjutkan aksinya.
Data Cloudflare sendiri menunjukkan betapa masifnya aktivitas tersebut.
Pada kuartal II 2026, perusahaan itu memblokir rata-rata 12,9 miliar ancaman siber per hari yang menargetkan India. Jumlah itu setara sekitar 3,1 persen dari seluruh permintaan konten yang ditanganinya di negara tersebut, tingkat lalu lintas berbahaya yang menurut Risticevic sudah menjadi “kondisi normal”, bukan lagi lonjakan sesaat.
Fragmentasi itu juga memengaruhi cara setiap perusahaan menghadapi serangan yang sama.
Menurut para pakar, operator telekomunikasi dapat menandai nomor telepon mencurigakan, platform pesan menandai akun palsu, registrar menandai domain palsu, dan bank menandai transfer yang tidak wajar.
“Setiap platform mungkin hanya melihat satu bagian dari kampanye, sementara pelaku melihat gambaran utuh,” kata Katkar dari Seqrite.
Menurut dia, inilah sebabnya penanganan kejahatan siber semakin membutuhkan organisasi untuk berbagi intelijen, bukan bekerja sendiri-sendiri.
Katkar mengatakan peluang terbesar untuk menghambat penipuan siber adalah dengan menargetkan infrastruktur yang mendukungnya sebelum korban kehilangan uang.
Infrastruktur itu mencakup rekening penampung, domain palsu, aplikasi palsu, identitas yang disusupi, jaringan transaksi mencurigakan, serta infrastruktur hosting yang digunakan untuk mendukung operasi penipuan berskala besar.
“Intervensi di tingkat infrastruktur menjadi semakin penting karena pelaku kini mengoperasikan ekosistem penipuan yang sangat terorganisasi dan mudah diperluas, dirancang untuk kecepatan, otomatisasi, dan monetisasi yang cepat,” ujarnya.
CNA telah meminta tanggapan kepada Kementerian Elektronik dan Teknologi Informasi India (MeitY), Otoritas Regulasi Telekomunikasi India (TRAI), dan Truecaller, tetapi belum mendapat respons.

Leave a Reply