Seberapa parah kebakaran tahun ini dibandingkan tahun-tahun sebelumnya?
Sekitar 202.000 hektar lahan – hampir tiga kali luas Singapura – terbakar di Indonesia antara Januari dan Juli tahun ini, menurut Kementerian Kehutanan.
Data resmi untuk Agustus dan awal September hingga tulisan ini dibuat belum tersedia, tetapi ASEAN Specialised Meteorological Centre pada Jumat (4/9) menyatakan bahwa “kepulan asap dengan intensitas sedang … terpantau berasal dari titik-titik panas di bagian selatan Kalimantan serta bagian selatan dan tengah Sumatra”.
Meski lebih parah dibandingkan beberapa tahun terakhir, skala karhutla sepanjang tahun ini masih jauh di bawah 2015 yang merupakan salah satu krisis karhutla terburuk dalam sejarah Indonesia.
Sekitar 2,6 juta hektar lahan terbakar pada 2015, dengan sekitar 600.000 hektar di antaranya terbakar antara Januari dan Juli tahun itu.
Kebakaran 2015 berlangsung selama lebih dari tiga bulan dan melepaskan emisi setara 1,75 miliar ton gas rumah kaca, menurut Earth Observatory milik Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional Amerika Serikat (NASA).
Hingga 2 September, kebakaran di Indonesia pada 2026 telah melepaskan emisi setara gas rumah kaca sekitar 10 persen dari kebakaran 2015, menurut lembaga tersebut.
Dari 202.000 hektare yang terbakar hingga akhir Juli, hampir separuhnya – atau sekitar 94.539 hektar – terjadi pada Juli saja, menurut Kementerian Kehutanan.
Yang menjadi perhatian khusus tahun ini adalah cepatnya penyebaran kebakaran karena kondisi El Nino, yang membawa cuaca lebih panas dan kering ke kawasan ini, bertepatan dengan musim kemarau di Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan, puncak musim kemarau terjadi pada Agustus dan September.
Namun, kebakaran tahun ini lebih parah dibandingkan beberapa tahun terakhir serta 2019, yang juga merupakan tahun El Nino. Antara Januari dan Juli 2019, Indonesia mencatat 137.000 hektare lahan terbakar.
“Ini sudah melampaui 2023 dan 2019, tetapi dengan kondisi El Nino yang hampir mirip dengan 2015, masih di bawah level tersebut,” kata Raja Juli dalam rapat kerja dengan Komisi IV DPR RI pada 18 Agustus.
Di mana kebakaran terjadi dan apa penyebabnya?
Seperti pada 2015, wilayah dengan kebakaran terluas adalah Kalimantan dan Sumatra. Namun tahun ini, kebakaran juga menyebar ke wilayah yang biasanya lebih jarang terdampak, termasuk sejumlah wilayah di Papua.
Papua Selatan, khususnya wilayah Merauke, muncul sebagai pusat kebakaran baru, menurut Yosi Amelia, Climate and Ecosystem Programme Lead di organisasi nirlaba Indonesia yang bergerak di bidang iklim dan keberlanjutan, Madani Berkelanjutan.
“Papua Selatan, atau Merauke, merupakan titik panas baru kebakaran hutan dan lahan. Kami menduga kuat ini terkait pembukaan lahan di kawasan proyek food estate dan energi,” kata Yosi kepada CNA.
Kelompok lingkungan juga menyebut degradasi lahan gambut sebagai salah satu faktor di balik kebakaran di Papua Selatan.
Lahan gambut merupakan ekosistem yang secara alami basah dan biasanya tidak terbakar jika kondisinya tidak terganggu.
Namun ketika dikeringkan, lahan gambut dapat terbakar dan api bisa bertahan di bawah permukaan tanah dalam waktu lama, menghasilkan jauh lebih banyak partikel halus dan karbon dibandingkan kebakaran hutan tropis.
“Pengeringan dan alih fungsi lahan gambut berkontribusi signifikan terhadap kebakaran hutan dan lahan di Papua Selatan,” kata Wahyu A Perdana, Manajer Advokasi, Kampanye, dan Komunikasi Pantau Gambut, organisasi nonpemerintah yang berfokus pada riset dan konservasi lahan gambut.
Raja Juli pada 1 September mengatakan, sebagian besar kebakaran di Kalimantan dan Sumatra hampir pasti sengaja dilakukan oleh individu atau perusahaan untuk berbagai tujuan, menurut laporan Jakarta Globe.
Seorang pejabat Kementerian Lingkungan Hidup pada 31 Agustus mengatakan, pihaknya tengah memeriksa 19 perusahaan yang terkait dengan kebakaran di Sumatra dan Kalimantan.

Leave a Reply